Modernis.co, Jogjakarta – Apakah Muhammadiyah itu Mazhab? atau agama baru? pertanyaan ini mungkin masih jadi pembahasan liar di beberapa lapisan masyarakat.
Banyak orang masih bertanya-tanya, sebenarnya Muhammadiyah itu mazhab atau bukan? Bahkan pertanyaan yang lebih liar adalah Muhammadiyah ini agama apa sih?
Pembahasan liar dari pertanyaan ini membuat masyarakat Islam di Indonesia ini terkotak-kotakkan. Penuh dengan identitas sosial. Padahal, semuanya masih sama-sama berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis.
Kedua pertanyaan ini sering muncul, apalagi ketika orang melihat cara ibadah warga Muhammadiyah yang kadang berbeda dengan kebiasaan masyarakat dari ormas yang lain
Padahal jika mau belajar sejarah lebih jauh dan mendalam, perbedaan ini sudah ada sejak masa lalu ajaran Islam dimulai. Ialah imam-imam mazhab yang ajaran keislamannya terus berkembang ke seluruh belahan dunia.
Sehingga, seluruh mazhab yang dipakai oleh ormas-ormas keislaman berasal dari imam-imam yang sama. Tidak ada mazhab baru atau bahkan Islam versi baru.
Hanya saja, perkembangan kemampuan dalam membaca konteks keilmuan dalam ajaran Islam dan situasi zaman yang terus mengalami dinamisasi.
Dalam hal ini, Persyarikatan Muhammadiyah berdiri untuk menjawab tantangan zaman yang ada di tanah air saat itu. Melalui konsep gerakan islam berkemajuan.
Akan tetapi, beberapa orang masih menyimpulkan, “Oh, berarti Muhammadiyah punya mazhab sendiri.” Padahal kenyataannya tidak begitu.
Apa itu Mazhab?
Pertama-tama kita perlu tahu dulu apa itu mazhab. Dalam dunia Islam, mazhab adalah metode atau cara para ulama besar dalam memahami Al-Qur’an dan hadis untuk menetapkan hukum.
Kita mengenal empat mazhab fikih yang paling terkenal: mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris al-Shafi’i, dan Ahmad bin Hanbal mengembangkan metode istinbath hukum.
Para murid serta generasi setelah mereka kemudian mengikuti dan melanjutkan metode tersebut dalam memahami serta menetapkan hukum Islam.
Nah, di sinilah posisi Muhammadiyah berbeda. Muhammadiyah bukan mazhab baru yang berdiri sendiri. Organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912 ini lebih tepat disebut sebagai gerakan dakwah dan tajdid (pembaharuan) dalam Islam.
Pembaharuan yang seperti apa? apakah mengadakan hal-hal baru dalam Islam? Jawabannya tidak.
Pembaharuan di sini adalah mengajak umat Islam untuk bangkit dari kondisi yang memprihatinkan saat penjajahan era kolonial. Muhammadiyah juga mengajak umat Islam kembali langsung kepada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis.
Artinya, Muhammadiyah tidak mengikat diri hanya pada satu mazhab tertentu. Para ulama di Muhammadiyah tetap mempelajari dan menghargai pendapat semua mazhab. Namun ketika menentukan hukum, mereka berusaha melihat dalil yang paling kuat dari Al-Qur’an dan hadis.
Pendekatan ini sering disebut sebagai tarjih, yaitu memilih pendapat yang dianggap paling kuat berdasarkan dalil atau hadis yang ada. Oleh karena itu, dalam praktik ibadah kadang kita melihat warga Muhammadiyah tidak selalu mengikuti satu mazhab secara penuh.
Misalnya dalam beberapa hal mirip dengan mazhab Syafi’i, tapi dalam hal lain bisa mengikuti pendapat ulama dari mazhab lain jika dalilnya dianggap lebih kuat. Jadi bukan berarti Muhammadiyah membuat mazhab baru, melainkan mencoba mengambil manfaat dari khazanah keilmuan para ulama. Sudah pahamkah sejauh ini?
Penetapan Hukum ala Muhammadiyah
Jika kita mempelajari lebih jauh mengapa kemudian pengikut para imam mazhab memiliki cara ibadah dan amalan yang berbeda? hal ini berkaitan dengan cara pengambilan hukum yang digunakan masing-masing mazhab.
Coba bayangkan, para imam mazhab hidup sejak sekitar tahun 150 H hingga 241 H. Umat Islam dari berbagai belahan dunia kemudian mempelajari ajaran dan praktik mereka selama berabad-abad.
Dalam proses panjang seperti itu, sangat wajar jika muncul berbagai perbedaan dalam praktik keagamaan. Bukankah hampir mustahil tidak ada perbedaan sama sekali?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Muhammadiyah tidak mengikat diri hanya pada satu mazhab tertentu. Lebih jauh lagi, Persyarikatan Muhammadiyah tidak membatasi diri untuk bermanfaat di satu kalangan saja, melainkan untuk semua umat manusia. Seperti Islam yang merupakan agama rahmatan lil alamin.
Para ulama di Muhammadiyah tetap mempelajari dan menghargai pendapat semua mazhab. Namun ketika menentukan hukum, mereka berusaha melihat dalil yang paling kuat dari Al-Qur’an dan hadis.
Di dalam Muhammadiyah sendiri ada lembaga yang khusus membahas masalah hukum Islam, yaitu Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Tugas lembaga ini adalah meneliti dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis, lalu merumuskan panduan ibadah dan hukum bagi warga Muhammadiyah.
Keputusan yang dihasilkan bukan hasil pendapat satu orang saja, melainkan hasil musyawarah para ulama dan ahli.
Pendekatan seperti ini sebenarnya sejalan dengan semangat yang dibawa oleh Ahmad Dahlan sejak awal. Beliau ingin umat Islam tidak hanya ikut-ikutan tradisi, tetapi juga memahami ajaran agama dengan dalil yang jelas.
Karena itu Muhammadiyah sering menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan menggunakan akal dan ilmu pengetahuan.
Masih Anggap Muhammadiyah Mazhab Baru?
Jadi kalau ada yang bertanya, “Muhammadiyah itu mazhab apa?” jawabannya sederhana: Muhammadiyah bukan mazhab. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang menghormati semua mazhab, tetapi tidak terikat pada satu mazhab saja.
Tujuannya adalah mencari pemahaman agama yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan hadis. Dengan penjelasan sederhana ini, kita bisa melihat bahwa perbedaan cara ibadah di tengah umat Islam sebenarnya adalah bagian dari kekayaan khazanah keilmuan Islam.
Selama umat Islam memiliki dasar dalil dalam setiap amalan dan meniatkannya sebagai ibadah kepada Allah, mereka tidak perlu memperdebatkan perbedaan itu secara berlebihan.
Justru di situlah kita belajar untuk saling menghargai dalam menjalankan ajaran agama. Seperti sifat mulia ulama-ulama Islam dan imam-imam mazhab yang menganggap bahwa perbedaan itu adalah rahmat Allah.





Kirim Tulisan Lewat Sini